Aku berpikir tentang apa yang terpikir oleh dua orang muda dengan secangkir kopi hitam di atas meja, atau bisakah kusebut dua cangkir saja ? Dua cangkir dari jarak dengan dimensi ruang yang berbeda. Kenapa sekarang bahasan kopi menjadi sangat asyik bagiku ? Padahal dulu jangankan memikirkan tentang filosofinya, meminumnya saja aku enggan. Ya, sekarang pun sebenarnya aku juga masih abal sebagai penikmatnya, tapi entahlah kenapa kemudian dia menjelma sebagai inspirasi yang tak berhenti. Kembali pada dua cangkir kopi itu tadi, milik dua orang muda yang tak saling bicara. Lah bagaimana bisa ? Bukankah kopi identik dengan percakapan yang tak ada ujungnya ? Kenapa dua orang muda itu diam ? Oh, ternyata dua cangkir kopi itu tidak berada di satu meja yang sama. Kasian sekali mereka, aku akan mencoba mendekat, menanyakan pada mereka apa yang mereka pikirkan tentang secangkir, maaf maksudku dua cangkir di meja yang berjarak itu. “Hai, kenapa tidak meletakkan kopi di meja yang sama ?”...